CURHAT KARYAWAN: Gaji nggak sampe UMR

 Uneg-uneg yang ditulis oleh sang karyawan (S) ini akhirnya hanya tersimpan dalam folder memory card handphone. Tulisan ini batal dikirim ke bosnya karena khawatir reaksi si bos yang sombong dan arogan akan berdampak buruk untuk seluruh karyawan. Walaupun semua yang ditulis S adalah curahan hati mereka juga, tetapi mereka menganggap yang ditulis S terlalu ekstrem, harus lebih diperhalus. Dan S meminta teman-temannya membuat redaksi yang lebih halus itu, karena S merasa tidak perlu halus, toh bosnya selama ini nggak halus perasaannya dan harus dikasi yang ekstrem sekalian. Sambil menunggu respon dari teman-temannya, perlahan-lahan niat untuk mengirim surat curhat ini makin tertunda. 
 Kenapa nggak ngomong langsung aja? Lah, kan bosnya arogan dan merasa nggak butuh karyawan. Kalo diungkit soal UMR, jawabannya," Silakan kalian kerja di tempat lain yang bisa kasi UMR! Masih banyak yang mau kerja disini". Dasar bos koplak. Karyawan menjulukinya Dutch Lady, karena dia pernah kuliah di Belanda. Tetapi bukannya wawasan luas yang dihasilkan setelah lulus dari sana malah sistem kolonial belanda yang diterapkan di perusahaan. Membayar sedikit tapi kerja pingin maksimal. Kerja RODI kalee.
 Mungkin bos yang koplak itu belum tentu juga tersentil dan tersentuh setelah membaca curahan hati ini. Tapi mungkin para bos lainrnya atau kalian para calon bos bisa mengambil sedikit pelajaran darinya, semoga. Ingat, karena kalian sudah berbaik hati kepada karyawan, sudah memberinya pekerjaan dan kadang membantu memberi pinjaman, bukan berarti kalian bisa memberikan upah semena-mena!!! 
 S menulis dua versi, yang pertama versi pendek, spontan, penuh emosi, dan yang kedua versi panjang, lebih tenang. Plus, tautan artikel tentang UMR Jakarta dilampirkan. Dan sampai saat ini, semua hanya tersimpan di hati dan kartu memori.

 Versi pendek :
Assalamu'alaikum ***a
Tolonglah dipikirin, sekarang kan udh PT, internasional lagi. Masa gaji karyawan dibawah UMR, ngga berani kasi gaji UMR apa dengan jerih payah karyawan selama ini, kadang ngadepin customer yang kayak raja, raja setan yg gak ada sopan santun. Custmer emang raja, tapi kadang raja setan, bisa dicek ke karyawan toko, gmn etika customer yg kayak setan itu. Harga diri karyawan diinjak2 sama customer2 yg biasa nge-dm2 itu. Tapi udh segitu diinjak2, gaji dibawah umr, di jakarta pula lagi.

 Versi panjang :
Assalamu'alaikum ***a
Minta tolong dipikirkan baik2 dan direnungkan
Sekarang ******T udh jadi PT, INTERNASIONAL lagi. Tetapi masa gaji karyawan masih di bawah UMR. Dengan jerih payah karyawan selama ini, mengumpulkan pundi2 omset, toko yang rame terus, lebih rame dari toko2 sebelahnya. Tapi ternyata toko tetangga yang sering sepi, gajinya lebih gede dari karyawan ******T. Apakah pantas, toko yang rame ternyata gajinya UMR pun ngga nyampe.

Apakah jerih payah karyawan selama ini sebagai UJUNG TOMBAK PERUSAHAAN, tidak layak dihargai lebih tinggi, apakah jerih payah karyawan cuma dianggap kerjaan remeh temeh, kerjaan gampang. Kalau gak ada karyawan, apa OMSET milyaran  bisa terkumpul. Melayani customer yang kadang2 gila nggak punya etika, sampe ngerendahin/nginjak2 harga diri karyawan. Customer2 lebay yg pas ngelapor ditanggapi oleh manajemen dengan lebay juga, seolah2 jerih payah karyawan hilang semua gara2 1 customer lebay. Udah segitu capek & diinjak2 customer2 gila, eh gajinya UMR pun tidak.
Jangankan kami, keluarga kami di rumah juga kecewa, ternyata ******T nggak berani ngasih gaji setara umr untuk S1 yg ngga bodoh2 amat. Mungkin dianggap anak bodoh kali ya, karena cuma lulusan U**, bukan lulusan U*. Jangankan S1, yang udh kerja lebih dari "5 tahun mengumpulkan pundi2 omset" aja belum UMR juga

Apakah karyawan ******T harus S2 dulu terus kerja 12 jam, baru layak dihargai dengan gaji UMR. Apakah tidak MALU ******T yang tokonya rame itu, omset pertahun milyaran ternyata cuma berani bayar gaji segitu

Tolong dipikirkan baik2 dan direnungkan. Kita gak mau kan, ******T dicap perusahaan yang dhalim ke karyawannya, karyawan yang sudah berkeringat mengumpulkan rupiah demi rupiah


 Walaupun uneg-uneg belum tersalurkan, S berharap tulisan ini menjadi mimpi di setiap tidur bosnya. Menghantui hari-hari bosnya, semoga.

No comments:

Post a Comment